Posted by: Fryana | September 24, 2009

Bakar Membakar dan Kebun Sawit

Musim kemarau yang berkepanjangan di Kalimantan Tengah ditambah banyak terjadi kebakaran hutan atau lahan, menyebabkan terbentuknya tumpukan kabut asap yang tidak baik untuk kesehatan dan juga keselamatan. Namun sayang sekali karena kebakaran tersebut dan luapan kabut asap yang menumpuk harus mencari kambing hitam.

Pasukan Pemadam Kebakaran sebuah Perkebunan Sawit di KalTeng

Kambing hitam maksud saya adalah perkebunan Kelapa Sawit. Banyak sekali LSM ataupun NGO yang menyalahkan dan menyudutkan perkebunan kelapa sawit sebagai sumber masalah dan pelaku pembakaran hutan dan lahan. Karena begitu banyaknya tuduhan tidak berdasarkan fakta tersebut, akhirnya saya pergi ke daerah Kalimantan Tengah untuk melakukan penyelidikan. Sayapun melakukan pengamatan secara seksama disebuah perkebunan kelapa sawit yang sering diperlakukan tidak adil dan sering dipersalahkan oleh NGO dan LSM terkait.

PT. Agro Bukit adalah salah satu tujuan saya melakukan pengamatan. Udara memang sangat panas, terik mentari seakan membakar kulit ini. Warna kulit saya yang semula putih berubah menjadi coklat kehitaman, tetapi itu tidak menjadi masalah karena bagi saya keadilan harus ditegakkan.

Setelah kurang lebih 2 minggu saya melakukan pengamatan di PT. Agro Bukit, saya tidak menemukan satu buktipun kalau perusahaan tersebut melakukan pembakaran. Malahan saya menangkap indikasi bahwa lahan yang terbakar adalah lahan warga. Sehingga saya melakukan in depth interview dengan warga. Walaupun tidak secara langsung mengakui, warga sekitar memang menganggap bahwa pembakaran lahan sering dilakukan guna membuka lahan baru untuk berkebun dan berladang. Hal ini dilakukan karena membakar adalah cara yang paling cepat dan paling murah.

Setelah puas dengan temuan saya dilapangan saya juga melakukan perbincangan dengan seorang penasihat kelapa sawit. Pertemuan dilakukan disebuah rumah makan yang terletak didaerah tebet. Sambil menjelang buka puasa kami berdua terlibat dalam perbincangan yang seru dan mengasyikan.

Picture22Sosok Edi Suhardi sangat bersahaja dan bersahabat, dengan senyumnya yang ramah ia mempersilahkan saya untuk bertanya apa saja mengenai kelapa sawit. Banyak pertanyaan saya yang berkaitan dengan lingkungan. Tetapi itu mungkin akan jadi topic lain dari tulisan saya, kali ini saya akan memfokuskan mengenai kebakaran lahan dan tumpukan kabut asap yang kian menebal.

Edi menjelaskan kepada saya, bahwa sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit akan sangat mengalami kerugian apabila mengalami kebakaran hutan. Edi juga mengatakan, “Bagi sebuah perusahaan kelapa sawit, bukan masalah murah atau cepatnya sebuah pembukaan lahan. Akan tetapi apakah sesuai dengan hukum dan juga ramah lingkungan.”.

Perkebunan kelapa sawit sekarang berbeda dengan perkebunan kelapa sawit 10 tahun yang lalu. Edi juga menambahkan bahwa saat ini, jika sebuah perusahaan kelapa sawit mau berkembang mereka harus memperhatikan kondisi lingkungan dan juga sosial. Jadi sangat tidak mungkin sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang besar berani melakukan pembakaran. Karena pembakaran tersebut lebih banyak efek negative dibandingkan efek positif untuk perusahaan terkait.

Hampir 3 jam kami berbincang. Banyak sekali penjelasan yang selama ini tidak mau diterima atau bahkan tidak dipedulikan oleh NGO mengenai kebaikan kelapa sawit, mampu saya dapatkan. Tapi rasa ingin tahu saya tidak berhenti sampai disitu. Saya akhirnya memutuskan untuk membuat janji dengan seorang penasihat untuk RSPO atau Kebun Sawit Berkelanjutan.

Kebetulan disela-sela kesibukan penasihat tersebut, beliau mau meluangkan waktunya untuk saya. Yohannes Izmi Ryan seorang sosok yang terlihat sangat serius dengan tatapan mata yang tajam. Terlihat jelas bahwa beliau sangat mengusai bidang yang digelutinya.

Kami terlibat dalam pembicaraan seru mengenai Kelapa Sawit dan pembakaran hutan, serta dampaknya pada RSPO. Yohannes mengatakan bahwa sebuah perkebunan kelapa sawit itu berkewajiban untuk masuk sebagai anggota RSPO jikalau ingin mempunyai daya saing di pasaran mancanegara. Sedangkan Yohannes juga menegaskan bahwa dalam peraturaan dan prasyarat sebuah perkebunan kelapa sawit mendapatkan sertifikasi RSPO adalah dengan melakukan Zero Burning (tanpa membakar).

Picture12Ketika saya meminta contoh perkebunan kelapa sawit yang menerapkan Zero Burning, Yohannes mengatakan ada banyak kebun sawit yang sudah menerapkan hal tersebut. Seperti contohnya adalah Agro Bukit yang terletak di Kalimantan Tengah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: